Kamis, 25 Maret 2010

Babak 55: Neraka 10, Raja Zhuan Lun

MELAWAT KE ASTANA NERAKA YANG KE SEPULUH
BERTEMU DENGAN RAJA ZHUAN LUN
BUDDHA HIDUP CI KUNG TURUN
TAHUN TING SHE, GO GWEE JWEE KAU 2535


Prolog:

"Kesepuluh Astana Yam Ong jarang sekali member pengampunan,
Siapa saja yang ugal-ugalan hingga tiba di sini pasti akan kehilangan nyalinya,
Rasanya sia-sia saja membuat bahagia anak-cucu dengan meningggalkan harta kekayaan yang berlimpah ruah,
Tak urung yang terdengar di alam baka hanyalah suara jerit kesakitan dan derita. “

Ci Hoet : Perlawatan ke alam baka kini sudah sampai ke Astana sepuluh, kitab "Melawat ke Alam Neraka" sudah mendekati babak akhir, namun "suara babak akhir" ini sungguh tragis sekali, yaitu suara putaran roda tumimbal lahir, para makhluk diputar hingga terasa pusing tak kepalang, rasanya langit dan bumi pun menjadi gelap gulita, terbengong-bengong tak dapat mengenal arah angin, oleh sebab itu begitu terlahirkan di dunia, umat menjadi lupa sarna sekali akan pengalamannya pada masa kehidupan yang lampau. Maka bagi seseorang yang membina diri di jalan Tao (keTuhanan) haruslah sering-sering bertanya pada diri sendiri: "Siapakah aku ini?", jika sampai mengerti "Siapakah Kau?" maka dapat dikatakan orang yang telah mendapatkan Tao (hakekat kebenaran)! Hari ini siap melawat ke alam baka, Yang Sheng, naiklah ke atas teratai.

Yang Sheng : “Nanti dulu, Guru, saya mohon tanya, ada orang bertanya padaku, jika mau amal cetak kitab "Melawat ke Alam Neraka” dengan disertai suatu doa permohonan dan harus mengutarakan doanya di hadapan altar sembahyangan "Ciao Kun” [xx] (Dewa dapur}, padahal dapur dapur di masa kini kebanyakan sudah menggunakan kompor gas, sudah tak lagi menggunakan tungku yang terbuat dari bata dan adonan semen, apakah keberadaan Dewa "Ciao Kun” masih tetap ada?


Ci Hoet : Meskipun dahulu bangunan rumah terbuat dari tanah dankayu, dan kini telah mengalami kemajuan tehnologi dengan menggunakan konstruksi beton bertulang mampu mendirikan gedung bertingkat, di dalamnya tetap juga manusia yang menghuninya! Bagaimma mungkin karena perubahan prasarana dapur dengan menggunakan kompor gas lalu Dewa Ciao Kun menghilang! Sesungguhnya dengan semakin baik prasarananya, dibandingkan zaman dahulu yang menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar yang sarat dengan kepulan asap memenuhi ruang dapur, tentunya para roh suci akan lebih senang hadir kerumah! Kebutuhan makan dan minum umat di dunia tiada yang tanpa melalui pemrosesan di dapur. Untuk kelangsungan hiduppnya, makan dan minum merupakan kebutuhan dasar manusia, kebutuhan itu tak boleh ditiadakan walau hanya sehari pun, sering pula kita mendengar sebuah ungkapan: "Dimana terlihat adanya asap disitu pasti ada manusianya" maka padat tidaknya jumlah penduuduk di suatu tempat sering menggunakan istilah: "Kepadatan asap dari penduduk". Gelar suci Dewa Ciao Kun di sebut: "Se Ming Cen Ciin"[xx], artinya berkuasa atas kehidupan manusia dan pemberkatannya dalam hal makan-makanan, yang untuk memmproses masakan itu apakah kompor gas atau tungku tak jadi soal, tak dibedakan, toh masaknya .. sama juga menggunakan api, maka Dewa Ciao Kun (Dewa Dapur) juga disebut dewa api, yakni "Huo De Xing Ciin" [xx]. Dalam hal lampu altar, dahulu mengguunakan "Iampu minyak", kini menggunakan "Iampu listrik", tentu tak karena masalah ini lalu para Roh Suci tak mau hadir di vihara, klenteng dan tempat beribadah lainnya! Tak peduli bagaimanapun majunya ilmu pengetahuan, sampai bisa membangun gedung pencakar langit, roh manusia takkan pernah binasa, Sin Beng (malaikat) tetap berada di samping kanan kirimu, dan Dewa Ciao Kun pun tetap berada di depan dapur.


YangSheng : Oh, ternyata begitu, meskipun prasarana dapur serba modern, tetap juga menggunakan bahan pokok berupa beras, minyak goreng, garam, cuka dan lain sebagainya Saya sudah duduk dengan baik di atas teratal: silahkan Guru berangkat pulang.


Ci Hoet : Sudah tiba, turunlah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar